Program PLN Peduli Tingkatkan Kenyamanan Kawasan WET Sendi Yang Sajikan Ritual Adat

Destinasi wisata Desa Adat Sendi di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, telah diresmikan sebagai kawasan Wisata Edukasi Terpadu (WET) sejak November 2018. Penetapan itu tak lepas dari peran program #PLNPeduli yang ikut membangun berbagai fasilitas di Desa Adat Sendi.

Program PLN ini telah membuahkan musholla, toilet, hingga gazebo, di kawasan yang baru merasakan listrik sekitar 2016. Fasilitas itu dibangun untuk menunjang kenyamanan pengunjung ketika berada di WET Sendi, sebutan untuk kawasan tersebut.

Pembangunan fasilitas ini juga berdampak positif terhadap warga setempat. Kegiatan pariwisata di WET Sendi nyatanya menumbuhkan perekonomian penduduk lokal yang mengelola kawasan tersebut secara mandiri.

“Meskipun kini Desa Adat Sendi memiliki daya tarik wisata yang sudah dikelola cukup baik, namun masyarakat sekitar tidak melupakan adat dan budaya dari nenek moyang mereka,” ungkap Zailla, selaku perwakilan PLN Jawa Timur, melalui rilis yang diterima redaksi pada Senin (2/12/2019).

Kegiatan ritual masih lekat dan bisa dijumpai pada saat berkunjung ke lokasi tersebut. Salah satunya adalah tradisi ngangsu banyu kahuripan. Jika diterjemahkan, kata Zailla, kurang lebih bermakna menimba air kehidupan. Sesuai namanya, ngangsu banyu kahuripan merupakan ritual mengambil air dari sumber mata air yang disucikan.

Pengunjung yang sedang bersantai di salah satu spot kawasan wisata Desa Adat Sendi. (Dok. Istimewa)

“Warga setempat menyebutnya Babakan Kucur Tabud. Sumber air di lokasi itu dipercaya mampu memberikan keberkahan,” lanjutnya.

Selain air yang mengalir sangat jernih, mata air alami tersebut dianggap bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Untuk mengambil air, masyarakat harus mengenakan pakaian adat. Wadah untuk menampung air pun tidak sembarangan. Warga membawa cukil atau timba tradisional yang terbuat dari bambu petung.

“Mereka beriringan menuju Babakan Kucur Tabud dengan berjalan kaki. Babakan merupakan sumber mata air yang dimanfaatkan warga sejak zaman dahulu. Ngangsu banyu kahuripan adalah tradisi yang bertujuan untuk ritual penyucian diri,” ujarnya.

Kegiatan adat dan budaya yang disajikan oleh masyarakat Desa Adat Sendi mampu mencuri perhatian wisatawan, termasuk influencer dan media. Pengujung datang dengan berbagai tujuan. Ada yang ingin mencoba ikut ritual atau hanya sebatas interaksi dengan warga setempat.

(Dok. Istimewa)

Tidak sembarangan untuk mengikuti ritual di Desa Adat Sendi. Ada syarat yang harus diikuti, seperti tak boleh memakai alas kaki. Menurut warga sekitar, ucap Zailla, selain untuk menghormati, melepaskan alas kaki berguna untuk terapi kesehatan di alam serta membuat kita lebih berhati-hati dalam melangkah.

Setelah selesai mengikuti rangkaian acara adat ini pengunjung akan dipasangkan syal sebagai simbol telah berpartisipasi menghadiri acara yang disebut Sumber Tabut. Tak hanya wisatawan, daya tarik Desa Adat Sendi juga memancing perhatian di dunia maya. Banyak warga net yang memberikan komentar positif di media sosial.

“Mbak Uki, betapa bersyukurnya masyarakat pedesaan dengan kehadiran listrik. Kehidupan modern dikota membuat kita sering lupa masih ada saudara2 kita yg masih menunggu pasokan PLN. Bravo buat PLN yg berhasil menjawab tantangan memasok listrik ke daerah2 terpencil,” demikian cuitan warga net atas akun Karami.lam di Instagram.

“mantep mbak program PLN e sampe ke desa adat,” komentar lainnya dari akun udi_su di platform yang sama.

HARDJA/NUR

Leave A Reply

Your email address will not be published.