Kisah Eks Tapol 65, Ditangkap Sampai Dibuang Pasca G30S Meletus

Lukas Tumiso (80) tak pernah menyangka akan menjalani hidup di Pulau Buru sebagai tahanan politik. Tak tanggung-tanggung, dia harus mendekam selama 10 tahun sejak 1969. Semua ini bermula pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965, atau yang dikenal G30S, meletus.

Pria yang kala itu berprofesi sebagai guru, ditangkap oleh TNI Angkatan Darat (AD). Penangkapan terjadi di Surabaya saat Lukas pulang kuliah. Ia sama sekali tak punya firasat buruk saat dibawa oleh petugas. “Lah, yang nangkep itu saya kenal,” ungkapnya saat berbincang dengan tim Arteri News di Jalan Kramat 5, Jakarta Pusat, Senin, 25 November 2019.

Setelah G30S, AD memang gencar melakukan penangkapan di berbagai daerah. Sasaran utamanya, yakni anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi sayap atau yang memiliki hubungan dengan PKI. Tak hanya itu, AD juga menyasar loyalis Soekarno.

Lukas Tumiso (Dok. Arteri News)

Lukas sendiri ditangkap karena dia terdata sebagai anggota di salah satu organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan PKI. Tapi dia bukan bagian dari partai yang diketuai oleh D.N Aidit itu. Melainkan hanya pendukung setia Soekarno.

Awal introgasi, Lukas dipaksa untuk mengaku sebagai orang PKI. Namun dia tak pernah meng-iya-kan ucapan petugas yang menyudutkannya. Katanya, pemeriksaan sebelum muncul Surat Perintah 11 Maret (Supersemart), biasa saja. “Hanya ditanya-tanya. Kamu PKI?,” ungkap Lukas menceritakan saat introgasi.

Setelah Supersemart keluar, introgasi baru berubah. Petugas yang awalnya hanya bertanya, mulai melakukan kekerasan fisik terhadap tahanan. Dari tangan kosong, hingga pukulan benda tumpul, jadi makanan sehari-hari Lukas dan yang lainnya. “Hidung saya ini patah dipukul petugas,” ucap Lukas.

Mirisnya, sebagian besar orang disiksa tanpa tahu apa yang terjadi, termasuk Lukas. Saat ditanya apa yang dituduhkan oleh petugas terhadap dirinya? Lukas menjawab singkat. “Tanyakan pada Soeharto,” katanya.

Lukas Tumiso (Dok. Arteri News)

Kurang lebih tiga bulan, orang yang ditangkap ini mendekam. Setelah itu mereka dibuang ke Pulau Buru. Lukas dan yang lain dihukum kerja paksa. Tidak ada proses peradilan yang Lukas jalani. Dari introgasi Lukas langsung menerima sanksi kejam tersebut.

Tim Redaksi sebenarnya berbincang panjang dengan Lukas. Tak hanya kisah dia saat ditangkap, dan diintrogas. Lukas juga bercerita saat dia di Pulau Buru. Namun tim sepakat untuk mengemas masa hidup Lukas menjalani tahanan dalam bentuk video. Kisah itu ditayangkan di youtube “Arteri Channel”.

HADI

Leave A Reply

Your email address will not be published.