Terus Berjuang Untuk “Legalisasi Ganja”

Lingkar Ganja Nusantara (LGN) tak pernah menyerah memperjuangkan legalisasi ganja agar dapat digunakan untuk hal yang positif. Organisasi ini terbuka untuk siapa saja yang ingin bergabung. LGN juga aktif mengedukasi masyarakat luas tentang ganja melalu diskusi, baik secara formal ataupun tidak. Semua dilakukan untuk memuluskan perjuangannya melegalkan tanaman yang dilarang hukum tersebut.

Beberapa waktu lalu, tim redaksi Arteri News mengunjungi markas organisasi Lingkar Ganja Nusantara (LGN) yang berada di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Kala itu, markas LGN nampak sepi. Hanya ada empat orang yang sedang berdiskusi di teras depan. Satu di antara empat orang itu ialah anggota LGN. Tim diminta untuk menunggu sebentar olehnya. karena ketua LGN, Dhira Narayana, sedang menerima tamu di ruang kerjanya.

“Halo,” sapa Dhira kepada tim saat kelaur dari kantornya. Ia pun menghampiri tim dan menyalaminya. “Kita ngobrol disitu saja, gabung sama mereka,” ucap Dhira sambil menujuk ke arah empat orang di teras yang duduk dalam satu meja panjang. Tanpa banyak basa basi, tim yang duduk berhadapan dengan Ketua LGN tersebut, langsung melemparkan pertanyaan terkait legalisasi ganja dan seputar LGN. Berikut hasil tanya-jawab dengan Ketua LGN, Dhira Narayana:

Momen saat tim redaksi berbincang dengan Ketua LGN, Dhira Narayana, yang di dampingi olehnya anggotanya di teras markas LGN. (Dok. Arteri News)

Kapan LGN dibentuk?

Itu udah banyak di youtube, pertanyaan lain dong.

Ok.. kalau gitu kita nanya yang lain. Lingkar Ganja Nusantara, perspektif orang kalau dengan kata ganja, wah apa ini organisasi pemakai ganja! Nah, bagaimana pendapat mas Dhira soal perspektif seperti ini?

Pokoknya kita organisasi pejuang. Mau dia pake (ganja) mau dia engga, ya terserah, siapapun yang mau memperjuangkan ganja (bisa bergabung). Makanya kamu nanti jangan kaget tiba-tiba professor, Doktor, Honoris Causa, Jaya Suprana itu bagian dari LGN. Padahal dia bukan pemake ya toh, tapi dia pejuang. Sampai kaya gitu, sampe levelnya yaa kaya anak-anak siapapun, kamu juga bisa sebenernya untuk jadi pejuang, kalo jujur sih ya kebanyakan mahasiswa.

Perjuangan yang diusung LGN ini dalam bentuk apa soal ganja?

Menanam ganja, sebenernya ini langkah paling kongkrit loh mas yang Fidelis lakukan itu menanam.

Kasus Fidelis itu, ganja yang dipergunakan pengobatan atau medis. Apakah LGN juga mengupayakan legalisasi ganja medis?

Luas sekali, sebenernya karena ganja ini kan bisa dliat dari berbagai macam sudut pandang. Jadi kalo ngomongin khasiat medis, ngomongin pemanfaatan serat, bagaimana dimaanfaatkan untuk kebutuhan sepiritual yang artinya itu kebutuhan kebudayaan secara umum. Sebenernya kalo ngomongin target kan Kerangka besar yang dilakukan LGN itu strategi nya yang penting tercapai. Salah satunya kan riset itu. Nah makanya LGN membuka siapapun untuk jadi pejuang untuk riset, makanya bukan cuma riset medis.

Kalo riset medis, yang terlibat professor. Nah, kita yang awam dengan riset tidak terlibat dengan medis. Tapi kalo riset budaya memberikan kesempatan kepada siapapun, mau LGN resmi atau simpatisan terlibat, siapapun bisa menjadi pejuang, menjadi contributor di riset budaya ganja nusantara di legalisasi ganja nusantra.

Dhira (tengah) saat memberikan jawaban kepada tim redaksi Arteri News. (Dok Arteri News)

Kalau begitu, orang yang memakai ganja bisa bergabung secara aktif juga dong di LGN?

Pemakai ganja ini kan justru kelompok yang sering disalah artikan sama masyarakat secara umum. Mereka kan gapapa, bukan krimiminal. Masih mending kriminal, ini mereka (pemakai) dianggap perusak, sampah masyarakat. Acara keluarga kalo ada yang ketangkep pemake ganja, kan itu keluarga malu banget. Sampai ada anaknya ketangkep gara-gara ganja malu gak? Malukan. Karena emang begitu stigmanya.

Ini contohnya , Jadi kemarin ada ibu-ibu sendirian dateng ke kantor. Nah possisi dia nih ketakutan karena anaknya introvert, pendiem, gak gampang bergaul pas sekolah di Australia. Nah terus dia cerita karena nilai nya jadi bagus dan jadi gampang bergaul karena dia pake ganja, nah tapi kalo bapaknya tau dia pake ganja, itu bapaknya bisa marah besar. Jadi ibunya dalam kondisi kebingungan. Disatu sisi, kondisi keuangan keluarga lagi kurang bagus kan kalo anaknya gak ngelanjutin kuliah bingung nanti kerja nya kan, tapi disana anaknya pakai ganja. Kira-kira, ibu itu bisa gak curhat ke BNN (Badan Narkotika Nasional)? Ya gakbisa. Ke keluarga nya juga gak bisa, nah mereka jadi cari tempat curhat yang tanpa menjudge ya kan?. Waktu bapak saya tau saya pake ganja aja, bapak saya kan nangis, kenapa bapak saya nangis? Karena ia merasa gagal, itukan stigma yang beredar dimasyarakat kita.

Wah, berarti LGN juga berupaya berjuang ingin merubah stigma yang menempel pada ganja ya? Bagaimana itu caranya?

Semua cara yang distrategikan ataupun tidak. Di instagram, kan penuh dengan strategi itu, kapan kita ngomong ini kapan kita ngomong itu. Maksudnya dirancang, hal-hal yang tidak dirancang kaya fidelis tidak dirancang. Sekarang ada berita apapun yang soal ganja jadi momentum, atau apapun lah soal ganja pasti LGN (ikut).

Misalkan ada pemakai ganja masuk LGN terus dia ketangkep, apa LGN akan membantunya?

Kalo kasus gitu kita engga. Tenaganya tidak ada dan karena bukan sesuatu perjuangan yang essential.

Lalu kenapa LGN membuka diri untuk pemakai?

Ya gapapa kalo mereka disini merasa nyaman. Karena, kan, mereka kesini datang nanti juga belajar. Mereka yang datang kesini pasti ingin jauh lebih tau tentang ganja, dan pengetahuan tentang ganja ternyata semakin luas. Saking luasnya, kita ngerasa pengetahuan kita semakin sempit, setiap hari kita menemukan informasi-informasi baru tentang ganja. Jadi pengetahuan itu sendiri sebenernya hidup. Terbuka baru terbuka setiap hari, saking dahsyat nya kita pikir kalo ini bisa disajikan dalam sebuah buku buat kajian-kajian soal ganja yang ada di dalam kehidupan dan kebudayaan kita.

Selama ini kita kan apa-apa buat kebijakan dari Amerika, loh di Amerika legal kita disini juga harusnya legal dong, kan gitu. Mestinya kan gak gitu, Mestinya kan di negara kita potensinya apa problem nya apa, ya terus solusi bentuk aturan nya seperti apa, ya kan. Nah pengetahuan nya soal ganja di bangsa kita juga minim. Kalo misalkan kamu Tanya sama aku, apa budaya ganja di Sunda? yaa aku ga ngerti. Tapi aku yakin orang sunda kedekatannya dengan alam itu luar biasa dahsyat. Makanya dia udah tau makanan apa aja yang bisa dipetik dari hutan buat lalapan, begitu ya kan. Berartikan itu interaksi nya udah cukup lama ya, masa orang kaya gitu gak ngerti soal ganja. Jadi, menurutku orang-orang mereka punya, tapi kalo kita mau belajar tentang kebudayaan ganja memang bukan kebudayaan yang dibuka untuk semua umur,semua pihak, semua kalangan. Karena memang mana yang punya nilai sacral. Contohnya tanaman Padi, seperti yang aku pelajari di desa Cipta Gelar atau di desa di Baduy itu tidak bisa diperjual-belikan saking sakralnya. Manusia jaman sekarang mana ada dengan pola pikir seperti itu.

Misalnya kita atur soal ganja. Ganja gak boleh diperjual-belikan, siapa yang ngedukung? Pemerintah? mana mungkin. Orang mereka otak nya transaksional kok. Tapi kita di LGN, kita mau setiap orang punya hak untuk menanam, bukan diperjual-belikan. Tapi memang bagian dari kehidupan, kebudayaan dan keseharian kita, dan kita menanam ganja itu juga perjuangan. Jadi, pola pikir kita kalo ngomong ganja itu bukan cuma pemakai. Level berikutnya, kita begitu ngomong ganja, kita ngomong tanaman, kita begitu ngomong ganja, kita ngomong menanam kan gitu logikanya. Apakah orang yang menanam pemakai? Apakah saya menanam timun saya makan timun? Saya gak suka timun, tapi saya menanam timun. Orang boleh gak menanam ganja kalo dia gak suka giting? Ya bolehlah. Apalagi kita tau tanaman itu mau dibumihanguskan, makin keras lagi kita memperjuangkan nya.

Misalkan ada pemakai ketangkep sama polisi, dan dia mengaku anggota LGN, bukan kah ini mencoreng nama LGN. Bagaimana anda menyikapinya?

Ya, kan memang organisasi itu jalan nya begitu, gak mungkin mulus-mulus aja. Ya kita mau sedih gitu? Engga juga kan?

Kalo memang urusan nya memang karena penggunaan ganja terus ditangkap, apalagi karena jual-beli, ya itu personal. Kan kita organisasi nya perjuangan, bukan organisasi pemake ganja. Malah kalau kita mau kritis ya, yang punya tanggungjawab paling besar untuk menghentikan penyalahgunaan itu siapa? Yaa BNN dan pemerintah. Karena itu tercantum dalam undang-undang narkotika. Terus apa urusan nya sama LGN. Kan tujuan kita didirikan bukan untuk menghentikan penyalahgunaan.

(Dok. Arteri News)

LGN kan memberikan edukasi kepada anggotanya, mau dia pemakai atau tidak, tentang ganja. Ada dukungan gak terkait edukasi ini, misal dari BNN gitu? hehe…

Ya enggak dong. Kan tujuan didirikan nya BNN bukan itu. BNN itu ada supaya masyarakat tetap takut, tetap buta dan tetap bodoh soal ganja.

LGN kan meriset tentang ganja, pernah gak mengajak pemerintah untuk melakukan riset bersama dan nantinya hasilnya dipublis ke publik?

Kalo secara resmi, kita melakukannya sama Kemenkes (Kementerian Kesehatan). Tapi, karena political buildnya lemah dari pemerintah, jadi gak jalan. Jadi izin suratnya aja kan di atas, yang penting kan izin pelaksanaannya. Tapi kalo riset secara illegal, entah apa bahasanya, itu maksudnya kita melakukan eksperimen-eksperimen langsung ke masyarakat yang punya masalah psikologis, dari yang levelnya ringan sampe yang levelnya berat. Ya kita eksperimen, ya cuma mana bisa di publish kaya gitu, namanya jadi bukan riset tapi eksperimen. Itukan sumber keyakinan mas, fakta-fakta yang kita temukan dilapangan yang menguatkan kita bahwa perjuangan itu bukannya cuma atas dasar pikiran kita.

Dari hasil riset yang telah dilakukan, apa khasiat ganja dalam dunia medis?

Kalo saya bahasakan itu ada bisa semua jenis penyakit (bisa disembuhkan oleh ganja). Nah pertanyaannya kan kenapa (ganja bisa begitu)? Tapi, kalo sekarang uniknya gini, filosofi kita kalo di kebudayaan timur ini. Ganja, apapun mau air putih, ganja itu kan media. Yang menyembuhkan bukan dia, tapi Tuhan. Lifestyle orang kota itukan yang kutangkap sains. Apa yang terbukti apa yang kata otoritas, yang punya standard itu yang bener. Sedangkan kalo kita di LGN gak gitu, kita belajar pengobatan dari orang tradisional. Orang tradisional kan gak punya sertifikat dokter. Gimana itu kalo jadi lifestyle? Bisa dibilang ini gila. Di LGN ini, kita cari keseimbangan antara value-value yang modern dan tradisional. Dalam sudut pandang kami, tradisi yang modern itu sesuatu yang tidak bersumber pada tuhan, belajar matematika, gak ketemu. Belajar jurnalistik, gak ketemu. Belajar bertani, gak ketemu. Tapi, kalo orang tradisional, dia belajar tanaman ketemu, belajar bikin pakaian adat ketemu. Nah kita di LGN melihat ini dua-dua nya sangat penting, antara sains dan nilai-nilai ketuhanan. Makanya kita tidak menentang adanya industri ganja farmasi itu mau ada di Indonesia, ya silahkan, walaupun industri farmasi itu pasti mencela orang-orang yang gak punya background dokter terus ngasih obat ke orang. Justru perjuangan kita untuk memberikan ruang agar orang-orang ini bisa tetap hidup dan menghidupkan komunitasnya.

Banyak sekali momentum untuk mendorong legalisasi ganja, contoh kasus Fidelis, terus negara-negara tetangga juga sudah mulai terbuka juga soal ganja?

Kenapa sampai detik ini, Indonesia itu masih susah banget. Padahal Singapore, Malaysia, Thailand, Australia, Filipina, itu berani. Ada apa sebenernya (sama Indonesia)? Pertanyaannya itu kan? Itu yang masih kita cari tau dan kita butuh bantuan temen-temen.

Apa sebenarnya dasar perjuangan LGN ini?

Sebenernya sih yang paling gampang itu Pancasila.

Loh, apa hubungannya Pancasila sama ganja?

Jadi dari pancasila kita bisa ngeliat gak perlu kita untuk sombong kepada alam, dari sini ada kaitan pancasila sama kebijakan ganja sekarang, nilai perjuangan kita kan kasih kepada ganja, kepada alam. Kemanusiaan itu, Fidelis contohnya.

Perjuangan Legalisasi ganja kita berbeda dengan sistem yang dibayangkan sama legalisasi global. Karena legalisasi global bayanginnya kan, misal pabrik ganja, produksi ganja untuk farmasi udah diproduksi terus punya hak paten, punya hak jual, terus yang boleh meng akses ini siapa? Pasien. Ini sistem global saat ini. Tapi siapa aja yang punya izin untuk indusri ini? Terbatas kan, hanya yang punya izin dan pemilik modal. Kawan-kawan aktivis di Amerika kan awalnya seneng, terus mereka pada daftarkan buat dapet lisensi biar resmi. Tapi tau-tau ada pengumuman di koran, ternyata sudah ada perusahaan-perusahaan yang dapet lisensi sebelum pemerintah membuka pendaftaran untuk lisensi. Ini sistem legalisasi yang terjadi. Akibatnya gimana? Perjuangannya kan belum selesai. Nah, kalo di Indonesia kita mau begini atau engga? Yang kita perjuangkan ini, kita maunya tanaman ganja ini bukan dari komoditas perusahaan doang. Tadi kan aku bilang kita mau tanaman ganja ini bisa ditanam oleh siapapun, bagian dari hak warga Negara.

Ketua LGN, Dhira Narayana. (Dok. Arteri News)

Berati menentang aturan dong?

Makanya kan yang diubah kebijakan nya, harus merubah undang-undang.

Upaya apa yang pernah dilakukan terkait merubah undang-undang ini?

Ya dialog, lobby kita lakuin, lobby sama pemerintah.

Kalau memperjuangkan semua orang boleh menanam, sebenarnya untuk apa orang itu harus menanam ganja?

Kalo orang nanam kan bisa macem-macem tujuan nya, tapi sekarang kan problem kita menghadapinya kan adalah kriminalisasi terhadap semua hal tentang ganja. Kita cuma mau tekenin kalo menanam adalah hak kita. Pokoknya LGN itu bukan komunitas pengguna ganja.

Ada gak dari LGN agenda yang terjadwal untuk mensosialisasikan pengetahuan ganja ke publik?

Tahunan ada GMM namanya, disitu kita biasanya event, tapi itu event global seluruh dunia (Hari Ganja Internasional).

Di Malaysia kini sedang meneliti soal ganja. Perkaranya gara-gara dokter membagikan minyak ganja lalu dia ditangkap. Kalau bercermin kepada kasus Fidelis, artinya pemerintah Malaysia ternyata lebih terbuka yah pemikirannya. Lalu kenapa Indonesia tidak bisa bersikap demikian yah mas?

Kalo analisis ku sih, kita gak boleh menanam. Karena menanam itu adalah sesuatu yang maha dahsyat. Kalo kita bisa kuasai kita gak mungkin jadi bangsa yang kelaparan, bangsa yang miskin. Budaya menanam ini, ya yang jadi senjata kita, dan bertahan dalam peradaban itu bercocok tanam. Jadi ini sebenernya kenapa ganja illegal? Ya karena kita gak ngerti dan tumpul. Saking tumpulnya, kita gak mau lagi memperjuangkan suatu hal yang sifatnya dasar, saking kita ditumpulkan nya oleh dunia pendidikan.

Apa saja yang dikerjakan LGN untuk melegalkan ganja?

Kita itu, kerjanya riset, edukasi. Makanya banyak masyarakat saat ini mulai ter-edukasi soal ganja. Lalu, advokasi kebijakan, mengurus izin riset budaya ganja, itukan bukan riset bodong. Kemudian, yang kita lakukan bisnis/dagang merchandise-merchandise kita, ada topi, baju, buku, kaos.

Kalau untuk diskusi, kapan saja itu waktunya mas?

Kalo diskusi paling tergantung undangan ya. Tapi kalo level nya komunitas itu rutin di seluruh Indonesia. Itu liat aja di instagram (LGN).

Pernah ada pelarangan gak untuk mengadakan diskusi soal ganja?

Permah, dulu di Bandung. Di beberapa daerah juga ada. Aku, di kampus ku sendiri, di UI juga, aku diusir.

Dulu, Ketua BNN pas Budi Waseso pernah ngomong, kiat-kiat orang yang melegalkan ganja itu penghianat bangsa. Bagaimana tanggapannya?

Dulu aku sempet berfikir bagaimana cara mengatakan nya. Tapi setelah itu aku berfikir mestinya begini, Indonesia ini didirikan oleh orang-orang yang pemberani. Dan Buwas (Budi Waseso) itu termasuk orang yang paling penakut, pengecut yang paling jelas di Indonesia. Karena dia takut membicarakan ganja di muka umum. Harusnya orang-orang penakut seperti itu yang dibuang dari Indonesia. Karena orang-orang seperti itu yang membuat negara kita jadi culun. Dia kan keliatan nya ganas, tapi secara mental dan pemikiran itu, pola pikir pengecut, karena tidak pernah membicarakan sesuatu secara apa adanya. Kalo permasalahannya untuk masyarakat umum, ya harus kita bicarakan, tapi dia kan tidak berani. 1000 kali aku datang ke BNN untuk ngobrol itu, dia cuma berani ngobrol satu pihak.

Kalau ditanya, apakah mungkin legalisasi ganja di Indonesia akan terjadi?

Pernah gak ngerasa kalo hidup kita itu harus selesai? Aku gak pernah memimpikan apa yang aku lakukan harus selesai, secara personal ya. Bukan berarti kalo ganja gak legal, terus aku ngerasa aku gagal dalam hidup. Aku memandang kehidupan ku tidak seperti itu. Jadi aku tidak memandang bahwa kehidupan ku itu ada batas waktunya, aku gak seperti itu.

Pernah merasa jenuh gak mas dalam perjuangan ini?

Kalo gak pernah bosen aku bukan manusia berarti. Kehidupan itu kadang semangat, kadang bosan.

Terus sampai kapan perjuangan ini akan dilakukan oleh mas Dhira?

Kalo orang yang visi kehidupan sama pekerjaannya jadi satu, itu sampai kapanpun (akan terus berjuang). Orang melihat saya (di LGN) sebagai pekerjaan, dan saya melihat ini sebagai visi kehidupan. Kan, beda kalo kamu melihat sebagai pekerjaan, kan ada batasnya. Tapi kalo kamu mandangnya sebagai kehidupan, kalo kamu menyadari apa yang kamu jalani sebagai misi kehidupan, selama kamu hidup di bumi ini, yaa sepanjang hayat mu itu (akan kamu tekuni).

(Pay/Randy)

Leave A Reply

Your email address will not be published.