Tekad Berjuang di Musik

Berawal dari sakit tipes yang akhirnya melahirkan tekad hidup untuk Christian Febrianto (Bong) menetap di musik. Hampir semua bidang pekerjaan di dunia musik pernah dicicipinya. Tekadnya yang kuat menjadi modal dia untuk terus berpetualang di dunia musik. Sampai di satu titik dia menggagas komunitas di media sosial dan membawanya menjadi direktur di Indomusikgram.

Kondisi badan yang lemah memaksa Christian Febrianto atau yang akrab dikenal Christian Bong, harus berada di rumah untuk istirahat. Kala itu, 2008, ia mengidap sakit tipes. Aktifitas utamanya tak lain hanya tidur, makan, dan minum obat. Hal ini membuat Christian jenuh. Belum lagi projek di sekolah yang sedang digarapnya harus terhenti karena sakit.

“Sambil kena tipes, kesel kan gabisa ngapa-ngapain, dirumah aja, akhirnya mencari suatu kegiatan buka-buka DVD, ketemu sutu DVD konser dari Studio Ghibli animasi jepang,” ucap Cristian saat berbincang kepada tim redaksi Arteri di kantornya, Jakarta Barat, Kamis, 24 Mei 2019. Perbincangan ini membahas seputar awal kisah Christian mendedikasikan dirinya dalam dunia musik.

Lanjut ke cerita. DVD yang ditonton itu merupakan pemberian dari guru paduan suara. Tapi Christian tak pernah menontonnya sejak pertama diberikan. Isi konten DVD itu ialah pertunjukan Orchestra. Christian menyaksikannya dengan fokus dan menilai sangat seru tayangan tersebut. Bahkan dia sampai berkhayal bisa menjadi bagian dari pertunjukan musik yang ditontonnya kala itu.

Direktur Indomusikgram, Christian Febrianto (Christian Bong). (Dok. Arteri News)

“Terus reaksi biologisnya (saat menonton DVD) keringetan kan, sembuh. Nah dari situ tuh, gua sembuh gara-gara musik. Ya udah lah, gua bakal stay dimusik apapun itu. Kalau gua gak mutusin buat ngambil DVD itu, gak ada (keputusan untuk hidup di dunia musik),” katanya.

Keputusan tersebut benar-benar menjadi tekad Christian. Hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk musik, baik dari kuliah, les, hingga bekerja. Ketika pria berkacamata ini telah menyelesaikan kuliahnya, dia sempat mengabdi menjadi guru musik. Christian tak peduli walau gajinya minim saat menjadi guru musik, meski sebenarnya dia  bisa mencari pekerjaan lain dengan izasah S1-nya. “Ya dibawah UMR (Upah Minimun Regional) gajinya waktu itu,” katanya.

Sekitar 2013, Christian lalu menggagas komunitas dengan nama Indomusikgram. Komunitas ini berisi video kreator musik dari amatir, semi-pro, hingga profesional. Aktifitas komunitas ini membuat konten di media sosial terutama di Instagram. Setiap video yang diungganya tersebut diberi hastag atau tagar Indomusikgram. Kemudian Cristian membuat mewadahi mereka dengan membuat sebuah akun di instagram. Awal nama akunnya itu @indomuicgram. Nama ini dipakai karena yang menggunakan “k” (indomusikgram) sudah dipakai temannya. Karena komunitas ini aktif, nama indomusikgram diberikan kepada Cristian.

“Kami mewadahi mereka semua (kreator musik video) direpost sambil ketemu, kolaborasi, dan end game-nya menghasilkan banyak produk dari video, dari projek memang yang  menggarisbawahi semua ini video,” katanya.

Cuma, lanjut Cristian, ujung-ujungnya apapun projeknya, karena ini startnya online board digital, memang ending-endingnya selalu produk yang ada di online, yaitu video. Jadi, walau formatnya offline, pasti ada dokumentasi videonya.

Direktur di Indomusikgram, Christian Febrianto (Christian Bong). (Dok. Arteri News)

Awalnya indomusikgram merilis update 15 detik video pada Juni 2013. Satu tahun kemudian, ternyata sangat hype di Indonesia. Sebab waktu itu medsos yang menjadi penguasa di dunia hanya dua, yakni Line sama Instagram.

Sebelum membangun Indomusikgram, Cristian sempat bergabung dengan komunitas Indovidgram. Dari komunitas inilah sebenarnya ide awal membentuk komunitas Indomusikgram lahir. Tanpa berpikir yang macam-macam pria  berkulit putih dan bertumbuh subur ini merealisasikan idenya. Yakni, membentuk Indomusikgram di Instagram.

“Kerjaannya ngerepost temen-temen aja sampe akhirnya ternyata responnya baik banget dari banyak orang. Dalam kurang dari 6 bulan, kita udah 100 ribu (pengikut). Jadi, ya udah lah sikat aja lah,” katanya.

Memasuki tahun 2014, apa yang dilakukan Christian tidaklah sia-sia. Giring Ganesha, yang masih menjadi vokalis Nidji, menghubungi Christian untuk mengerjakan sebuah projek. Dari Giring, Cristian lalu mengenal orang-orang ternama dalam industri musik. “Dalam satu tahun gue ketemu sama Addie MS, gue ketemu sama Anji, dan sampe sekarang jadi temen baik,” ucapnya.

Selain bisa berteman dengan orang tersebut, Christian juga dapat bertemu dan dekat dengan band favoritnya, J-Rocks. Lulusan S1 Komposisi Musik Universitas Pelita Harapan (UPH) ini, bertemu dengan sang idola saat datang ke label musik Aquarius. Christian menilai dalam dunia musik pembawaan diri dan skill tidaklah cukup. “Lu butuh nama,” ucapnya.

Ia menyadari kalau banyak pihak dari indsutri musik menyambangi dirinya karena maksud tertentu. “Ada sesuatu yang besar lagi gue kerjain. Tapi ya udah, namanya dunia professional mereka akan ngelirik kalau udah jadi kan, mana ada yang ngelirik waktu lagi proses,” katanya.

Terlepas dari itu, Chiristian terus fokus mengembangkan Indomusikgram menjadi sebuah bisnis di bidang musik. Pekerjaannya ditinggal karena waktunya banyak tersita untuk Indomusikgram. Masuk 2017, dia mulai menyewa tempat untuk dijadikan kantor. Lalu pada pertengahan 2019, Indomusikgram resmi menjadi usaha yang berbadan hukum.

“Dan disitulah gua sebagai pegiat seni ketemu tantangan berikutnya, yaitu menjadi direktur dalam sebauh perusahaan,” ucapnya.

Direktur di Indomusikgram, Christian Febrianto (Christian Bong). (Dok. Arteri News)

Perjalanan Christian hingga sampai ke titik ini tentu tak lepas dari dukungan orang tua. Dikatakan olehnya, kedua orang tuanya sejak awal memang menyetujui apa yang menjadi keputusan hidupnya, yakni mendalami musik. Meski tak dipungkiri, ada pula rasa khawatir dari orang tuanya atas pilihan tersebut. “Tapi karena didukung, yaudah didukung aja. Jadi dari SMP les gitar klasik, SMA les Vocal, terus waktu lulus SMA langsung kuliah musik,” tambahnya.

Christian sendiri pernah mencoba berbagai pekerjaan yang beriktan dengan musik. Mulai dari nyanyi di cafe, nyanyi di nikahan orang, nyanyi di film pendek, bikin musik untuk video game mobile, bikin jingle perusahaan, ngurusin sound effect, hingga mencoba yang lainnya, termasuk menjadi guru musik.

“Ketika nyobain semuanya, ternyata nyari duit dibidang musik itu susah kalo gak jadi pengusaha dalam musik, pengusaha dalam jasa music, intinya harus jadi yang wiraswastanya,” pungkas penggiat musik yang pernah menjadi youtuber ini.

Kini akun Indomusikgram di Instagram telah diikuti jutaan netizen. Tercatat total pengikuti Indomusikgram kurang lebih sebanyak 1,1 juta. Dengan jumlah ini, tak jarang konten yang diunggah Indomusikgram menjadi viral di media sosial. Akunnya sendiri juga telah terverifikasi oleh Instagram atau ada centrang birunya.

Tentu semuanya itu tidaklah didapat Chiristian dengan instan. Melainkan ia telah melewati proses yang panjang dan tak mudah. Bahkan untuk bertahan pada pilihannya ini dia sampai rela meninggalkan aktifitasnya membuat konten youtube pribadi. Banyak yang menyangkan keputusannya tersebut, terlebih teman-temannya. Selain itu, Christian juga pernah berpikir untuk menghentikan Indomusikgram. Kala itu ia pernah merasa stress karena beberapa bulan tidak mendapat job.

“Sempet beberapa bulan gak ada kerjaan, 3 apa 4 bulan gitu, itu straight kerjaan kita cuma ngerepost doang, wah itu stress tuh terus ditambah, kantor kan baru ya, jadi apa beberapa sesuatu yang mengganggu turnover lah, itu sempet yang rendah banget, rendah bangetnya itu kaya ini, gua lanjut apa engga ya, mau seberapa besar dan kecil pun apa yang kita kerjain pasti pernah ngerasain itu,” ucapnya mengkisahkan.

Untungnya, pelarian untuk mengembalikan semangatnya yang sempat redup cukup simple, yakni makanan. Tak heran kalau Direktur Indomusikgram ini memiliki tubuh yang subur.

Naufal/Randy

Leave A Reply

Your email address will not be published.