Tak Tersentuh PLN, Kampung Ciwalen Aliri Listrik Sendiri

Sebuah kampung di wilayah Kabupaten Bogor, tak pernah tersentuh aliran listrik PLN. Tapi warga setempat mencoba berinovasi untuk membuat Pembangkit Listrik Tenaga Air. Meski sudah dapat memenuhi pasokan listrik secara mandiri, tapi mereka masih berharap agar PLN menyalurkan listrik ke tempatnya.

Beberapa waktu yang lalu, tim Redaksi Arteri News mengunjungi Kampung Ciwalen yang berada di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Perjalanan ditempuh dengan menggunakan sepeda motor jenis bebek. Kurang lebih dua jam, tim yang berangkat, tiba di pintu masuk Gunung Halimun Salak.

Jarak dari titik tersebut ke lokasi tujuan hanya berkisar 4 KM. Artinya, tinggal jalan sedikit lagi untuk sampai di Kampung Ciwalen. Tapi, jarak yang dekat ini nyatanya tak mudah dilewati. Jalanan berbatu dan terjal menjadi rintangan yang cukup sulit dilalui. Diperlukan kehati-hatian saat melewati jalan ini. Bila tidak, pengendara bisa saja terjatuh akibat bannya tergelincir batu.

Suasana sunyi di Kampung Ciwalen. (Dok. Arteri News)

Setelah berjalan secara perlahan, akhirnya tim tiba di Kampung Ciwalen. Udara yang begitu sejuk seakan menyambut kedatangan tim yang berkunjung. Lingkungan di sini juga nampak asri, masih banyak pepohonan sejauh mata memandang. Suasana ini seakan menjadi refleksi dari penatnya kehidupan Ibu Kota.

“Dari mana ini?,” tanya seorang pria dengan ramah ketika tim menyambangi kediamannya untuk mencoba berinteraksi dengan pendduduk Kampung Ciwalen. Pria ini bernama Rohmi (35), tokoh masyarakat setempat. “Silahkan masuk,” lanjut Rohmi mempersilahkan kepada tim Arteri News untuk bertamu ke rumahnya.

Rohmi pun menjamu tim yang berkunjung dengan hidangan yang sederhana. Selain Rohmi, ada pula pria lainnya yang sudah berada di teras rumah Rohmi. Ia adalah Ismat (45), yang juga merupakan tokoh masyarakat Kampung Ciwalen. Tim lalu menyampaikan tujuannya berkunjung ke kampung mereka, yakni ingin mengulas alat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dibuat penduduk setempat.

Kata Rohmi, PLTA ini difungsikan untuk memenuhi kebutuhan listrik penduduk Kampung Ciwalen. Pasalnya, tempat ini masih belum terjamah sentuhan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Karena itu, warga setempat bergotong-royong menciptakan PLTA untuk mendapat pasokan listrik.

“Idenya dulu dari warga. Semua warga daerah sini pasang turbin. Pernah ada juga di desa Malasari. Siang dan malam listriknya tak pernah padam (nonstop),” kata Rohim sambil menunjuk lampu yang menyala di rumahnya.

PLTA tersebut memanfaatkan aliran sungai Cisarua. Aliran listrik yang dihasilkan sebesar 200-500 watt. Besaran ini bisa disebutkan cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik empat kepala keluarga yang ada di Kampung Ciwalen. Ya, kampung ini memang hanya dihuni empat kepala keluarga. Bangunan yang berdiri juga tak banyak, yakni sebanyak enam rumah, dimana empat di antaranya merupakan rumah warga.

Turbin di Kampung Ciwalen. (Dok. Arteri News)

Meski diproduksi secara mandiri, penduduk Kampung Ciwalen begitu hemat dalam menggunakan listrik. Misalnya saja seperti Rohmi yang memiliki beberapa ruangan di rumahnya seperti kamar mandi, kamar tidur, ruang tengah, dan dapur. Tak semua ruangan itu memakai aliran listrik, melainkan hanya ruangan tengah saja yang lampunya menyala.

Diterangkan Rohmi, untuk penggunaan listrik di Kampung Ciwalen ini tergantung dengan musim. Kalau musim kemarau, warga setempat hanya memasang satu lampu saja di rumahnya. Ketika masuk musim hujan, maka akan banyak lampu yang menyala, yakni sebanyak empat lampu dalam satu rumah. Daya setiap lampu yang dipasang yakni sebesar 5 watt.

Ismat memaparkan, komponen dalam turbin air atau alat PLTA tersebut bisa di bilang sangat sederhana. Dari komponen sederhana ini, turbin bisa digunakan untuk pembangkit listrik mulai kapasitas kecil hingga besar. Selain tidak memerlukan banyak tempat untuk pemasangan, turbin ini sangat efisien dan dirangkai dengan generator sehingga pemasangannya menjadi sederhana.

“Komponennya paku, kayu, pen bel, kabel, magnet dan generator. Ketahanannya bisa bisa satu tahun lebih. Kalau tidak bergesekan Magnet dan besinya bisa lama kekuatannya. Bila kabelnya ke bakar baru mati,” ucap Ismat sambil menunjukkan turbin.

Terciptanya PLTA ini tentu memberikan banyak manfaat. Masyarakat bisa menggunakan listrik untuk menonton tv, dvd, hingga radio. Alat yang memberikan banyak manfaat ini dibuat dengan modal yang tak terlalu mahal, yakni berkisar Rp 1 juta. “Tapi kalau dulu 500 ribu cukup,” kata Ismat.

Warga Kampung Ciwalen sudah bertahan dengan turbin ini selama 10 tahun. Meski sudah dapat memasok listrik secara mandiri, tapi warga setempat tetap ingin merasakan pasokan listrik dari PLN. Tapi apa daya, jumlah penduduk sebanyak empat kepala keluarga tak memenuhi batas kouta perusahaan BUMN tersebut.

Ismat, Rohim, dan penduduk sekitar, juga bukan tanpa upaya memperjuangkan kampungan agar tersentuh PLN. Di antaranya, melakukan musyawarah dengan lurah setempat untuk mengupayakan listrik PLN. Tapi sampai saat ini upaya tersebut masih belum membuahkan hasil.

“Harapannya disini ada PLN. Kalau PLN mati bisa dihidupkan turbinnya,” pungkasnya.

Pandi

Leave A Reply

Your email address will not be published.