Sindikat Gotong-Royong Berjiwa Nasionalis

Anak-anak metal membuat perkumpulan untuk saling membantu satu sama lain. Perkumpulan anak band beraliran dead metal ini juga punya caranya sendiri untuk berkontribusi terhadap bangsa. Komunitas ini dinamai Bandung Death Metal (BDM) sindikat.

“Bermusik dengan tidak melupakan akar budaya, dan kita ngomongin budaya pasti sepakat dengan lingkungan,” inilah jawaban Vokalis Jasad, Mohamad Rohman atau yang akrab disapa Kang Man, saat tim redaksi Arteri menanyakan visi besar dari Bandung Death Metal (BDM) sindikat.

Tim berjumpa dengan Kang Man di markas The Panas Dalam, Bandung, Selasa, 30 April 2019. Sambil menikmati kopi hangat, tim meleparkan beberapa pertanyaan seputar BDM kepada Kang Man yang menjadi pengagags komunitas tersebut.

logo Bandung Death Metal (BDM) sindikat. (Dok. Istimewa)

BDM ini terbentuk pada 2006, pasca diselenggarakannya acara Bandung Death Fest. Komunitas ini sedikit berbeda dengan komunitas lainnya. Yakni, tidak memiliki struktur yang kongkrit, melainkan hanya terdapat bendahara saja. Kang Man menyebutnya OTB atau Organisasi Tampa Bentuk.

“Jadi (BDM) tidak ada struktur gimana gitu. Yaudah komunitas cair saja. Cuma secara organisasi berjalan bagus karena ada yang membuat bendahara. Jadi kalau ada anak (BDM) yang sakit atau membutuhkan, kita urunan (patungan),” ucap Kang Man.

Komunitas ini dibentuk sebagai wadah band death metal di Kota Bandung. Berdasarkan data Kang Man, lebih dari 160 band dead metal yang tergabung di BDM. Band-band tersebut tak hanya numpang eksis, Kang Man menegaskan kalau mereka terbilang aktif dan produktif.

Kang Man. (Dok. Istimewa)

Banyak kegiatan yang dilakukan oleh BDM. Yang paling rutin ialah membuat acara musik metal di antaranya ialah Bandung Death Fest. Tapi acara tahunan ini sedang vakum karena kesibukan individu. Selain soal musik, BDM juga melakukan kegiatan sosial seperti menanam pohon dan aksi sosial lainnya. “Jadi tidak hanya terpatok di musik death metal saja. Kegiatan sosial inikan meneruskan budaya juga,” katanya.

Di dalam BDM, Kang Man dan kawan-kawan menekankan rasa kekeluargaan dan gotong royong. Band-band di dalam BDM ini juga diajarkan untuk tak manja, tapi harus mandiri. Terlebih, saat ada band yang mendapatkan tawaran manggung di luar negeri jangan pernah harapkan dukungan dari pemerintah. “Walau gak ada support dari pengelolah negara, tetap hajar terus,” ucapnya.

Walau tak pernah didukung oleh pemerintah, band-band BDM ini tetap menunjukan nasionalisme dan patriotismenya terhadap Indonesia. Band-band BDM ini selalu mengibarkan bendera merah putih dan memberikan wawasan tentang indonesia setiap kali tampil di panggung internasional.

Aksi band Jasad yang selalu mengibarkan bendera merah putih di pentas internasional. (Dok. Istimewa)

“Ini bentuk kecintaan kita terhadap bangsa ini, patriotismenya itu diwujudkan ketika manggung,” jelasnya.

Bagi band-band BDM, membawa bendera merah putih dan mempromosikan Indonesia merupakan kewajiban. Hal ini teleh disepakati bersama meski tak terlulis sebagai peraturan organisasi yang harus dilaksanakan. Karena, ketika tampil di tingkat global, orang-orang tidak lagi melihat BDM atau Bandung. Tapi melainkan mereka akan melihat dari negara band ini berasal. “Jadi terlalu kecil kalau kita ngomongin Bandung,” lanjutnya.

Kang Man menegaskan, band-band metal yang main diluar ini, bukan manggung di acara kecil atau istilah Kang Man ialah “ecek-ecek”. Namun, kata Kang Man, Band-band metal ini manggung di festival-festival besar. Menurutnya, perfome di panggung global dengan mengibarkan dan mempromosikan Indonesia, merupakan sebuah bentuk kontribusi terhadap negara. “Ya, ketika saya anak metal, ini cara saya berkontribusi secara global,” pungkasnya.

Hadi/Pay

Leave A Reply

Your email address will not be published.