Menuju Curug Penganten, Bandung, Wisata Yang Terbengkalai Tapi Mempesona

Curah hujan skala kecil atau gerimis menyambut kedatangan kami, tim Arteri News (Bewbew dan Donald), saat berkunjung ke Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Rabu, 25 Desember 2019. Kami datang ke sana menggunakan kendaraan roda dua dengan tujuan berwisata ke Curug Penganten.

Destinasi tersebut kami ketahui dari google maps. Jadi di hari terakhir mengarungi Bandung, kami sempat kebingungan menentukan destinasi wisata. Seperti biasa, saat otak sedang tak bisa difungsikan, google kerap jadi andalan.

Pertanyaan lokasi wisata terdekat lalu dilontarkan ke google. Cukup tunggu sebentar, google langsung menunjukan tempat wisata disekitar kami. Satu di antaranya, ialah Air Terjun Penganten. Lokasinya kebetulan yang paling dekat. Makanya kami memutuskan untuk mengunjung tempat tersebut.

Dengan rute arahan google, kami akhirnya tiba di lokasi. Rasa curiga seketika muncul dibenak kami. Sebab, lokasi yang kami kujungi ini tak nampak seperti tempat wisata. Sepengelihatan kami, tidak ada petunjuk, plang, papan nama, atau semacamnya, yang meyakinkan kalau ada tempat wisata di lokasi ini.

Layaknya desa pada umumnya, disini hanya ada rumah-rumah penduduk setempat di kanan kiri jalan. Namun kami tak langsung pergi meninggalkan lokasi arahan google. Melainkan, melipir ke warung untuk membeli dua gelas kopi hangat.

Kebetulan gerimis juga masih setia menemani kami disana dan membuat udara lebih terasa dingin. Jadi mampir ke warung warga sekitar untuk menghangatkan tubuh dengan kopi, kami anggap sebagai pilihan yang tepat.

Namun faktanya tak demikian. Hangatnya kopi yang kami minum nyatanya tak dapat melawan udara dingin di Cisarua. Badan kami masih menggigil kedinginan, terlebih baju juga sedikit basah karena gerimis.

Pemandangan alam yang siap menemani perjalanan menuju pintu masuk Curug Penganten, Cisarua, Bandung Barat. (Dok. Arteri News/Hadi).

Untuk urusan dingin, sebenarnya bukan masalah bagi kami. Karena yang jadi persoalan kami, apakah disini benar lokasi Curug Penganten? Lagi pula, kami juga sudah menyadari kalau udara Bandung itu dingin. Khususnya untuk kawasan di dataran ditinggi, seperti tempat kami berada.

Tak mau terus dibayangi rasa ragu, kami coba bertanya kepada ibu yang menjaga warung tentang lokasi Curug Penganten. Kalau sebelumnya kami bilang google bisa jadi andalan, maaf, kali ini tidak demikian. Kami lebih mengambil sikap untuk tak mempercayai google dalam urusan ini.

Ya, keraguan kami seketika sirna setelah mendengar jawaban ibu warung. Katanya, curug yang kami ingin kunjungi memang disini lokasinya. Ibu warung juga menujukan jalur untuk menuju ke Curug Penganten. “Kalau mau ke curug mah lewat depan situ,” kata ibu warung yang menujuk jalur di seberang jalan, tepat di depan tempat usahanya.

Sungguh di luar dugaan. Ternyata pluran semen berbentuk anak tangga di seberang jalan itu, adalah jalur menuju tempat wisata yang kami cari. Kami juga yakin, setiap orang yang datang kesini tak akan mungkin menyangka kalau itu adalah jalur menuju ke Curug Penganten.

Penampakan jalur kecil menuju Curug Penganten yang diplur semen di seberang jalan depan warung. (Dok. Arteri News).

Pasalnya, seperti yang kami sebutkan di atas tadi, tak ada plang, papan nama, atau semacamnya, disekitar jalur kecil tersebut. Tanpa membuang waktu, kami langsung bergegas melangkahkan kaki melalui jalur itu. Tak lupa, terlebih dahulu kami menitipkan motor kepada ibu warung, karena tak ada tempat parkir umum.

Pluran anak tangga ini mengarah ke bawah. Jalurnya tak terlalu besar. Mungkin hanya cukup dilalui satu orang. Jalur yang diplur ini juga tak panjang. Kurang lebih sekitar 10 meter. Sisanya, yakni jalur tanah yang permukaannya licin terguyur gerimis dan bersampingang dengan jurang.

Tentu kami harus hati-hati dalam melangkah. Bila tergelincir, maka resiko buruknya jatuh ke jurang. Namun jalur berbahaya ini tidak panjang. Jaraknya itu sekitar empat langkah saja. Meski terbilang pendek, melintasi jalur ini tetap harus hati-hati. Perlu diingat, jangan pernah sepelekan sesuatu di alam, walau ukuranya atau tingkat bahanya kecil.

Sepanjang jalan menuju Curug Penganten, sajian pemandangan alam yang indah benar-benar memanjakan mata kami. Lebatnya pepohonan menyelimuti lembah ditambah kabut-kabut tipis yang muncul, begitu mempeso dilihat.

Pos kayu tak berpenghuni di pintu masuk Curug Penganten. (Dok. Arteri News).

Kira-kira sekitar 8-10 menit, kami tiba di pintu masuk Curug Penganten. Pintunya ini terbuat dari kayu, begitu juga pos yang sepertinya merupakan tempat pembelian karcis masuk. Tertulis di pos kayu itu, harga masuk ke Curug Penganten sebesar Rp 5 ribu/orang.

Bisa dibilang kami sedang beruntung saat berkunjung ke curug tersebut. Soalnya, ketika kami tiba, pos kayu itu kosong melompong alias tak ada orang yang jaga menariki uang masuk ke area wisata. Karena tak berpenghuni, jadi kami masuk tanpa dipungut biaya, dengan kata lain gratis.

Baru saja melangkahkan kaki ke dalam area wisata, kami langsung dihadapkan oleh pohon tumbang yang memutus jalur. Dilihat dari kondisinya, pohon ini sepertinya sudah lama tumbang. Soalnya batang kayu pohon ini sudah lapuk hingga berjamur. Tapi ini hanya prediksi kami saja ya. Karena kami juga baru datang untuk pertama kali ke curug ini.

Setelah melalui pohon tumbang, kami lalu dihadapi dengan jalur kecil berliuk-liuk yang licin dan cukup terjal. Kami melangkah sangat ekstra hati-hati. Karena kalau terpeleset, kami bisa terguling-guling dan jatuh ke dalam jurang.

Pohon tumbang yang berada tak tak jauh dari pintu masuk Curug Penganten. (Dok. Arteri News/Hadi).

Bisa dibilang, jalur di tempat wisata ini kondisinya buruk. Butuh renovasi atau perbaikan demi kenyamanan wisatawan yang berkunjung. Karena selain licin, kayu-kayu yang menjadi pembatas pinggir jalan sudah banyak rusak, bahkan sebagian besar jalur tak lagi ada pembatas pinggir jalan.

Bisa dibayangkan pastinya bagaimana kengerian melintasi jalur ke Curug Penganten. Mungkin kalau orang yang tak memiliki jiwa petualang, lebih memilih balik arah dari pada memaksakan dirinya dalam bahaya. Kalau kami ini terus melintas bukan karena memiliki jiwa petualang. Melainkan sudah terpalang tanggung, jadinya mau tak mau kami gas terus sampai curug.

Setelah berjibaku dengan jalur berbahaya sekitar 5-7 menit, indra pendengaran kami menangkap bunyi air mengalir yang berasal dari depan. Kami yakin kalau curug yang kami tuju sudah dekat. Lalu kami melintasi dua belokan, dan kami mendengar suara air terjun. Itu pertanda kami akan segera bertemu dengan Curug Penganten.

Benar saja, usai melangkah melewati dua liukan lagi, air terjun yang kami tuju sudah terlihat. Kami kemudian bergerak semakin cepat, dan pas di ujung jalur, ternyata ada satu tantangan lagi yang harus dilalui. Tantangan tersebut sama seperti di awal, yaitu pohon tumbang yang memutus jalur. Dengan hati-hati kami berhasil melalui pohon yang tertidur di jalur, dan sampai di hadapan Curug Penganten.

Curug Penganten yang sudah terlihat dari kejauhan. (Dok. Arteri News/Hadi).

Mission complete. Kini, waktunya kami menikmati air curug yang segar. Sayangnya ketika kami ingin mandi di curug ini, terdapat ceceran sampah, dari yang tersangkut di batu sampai terselip di pinggir-pinggir tebing. Sampah yang ada didominasi oleh plastik. Penampakan sampah ini membuat kami jengkel dan mengurungkan niat mandi di curug.

Satu agenda kami, mandi di curug, gagal. Ya sudah kami terpaksa lompat ke agenda berikut, yakni foto-foto di curug. Kami saling bergantian memotret disana. Sekiranya sudah banyak gaya yang telah difoto untuk pamer di media sosial, kami lalu bersiap-siap untuk balik ke warung, mengambil motor, dan pulang.

Berkunjung ke Curug Penganten sungguh sangat menarik. Wisata ke tempat ini telah memberikan pengalaman yang seru, asik, hingga menantang, bagi kami. Satu hal yang masih kami sesalkan, kenapa curug seindah itu tak dikelola dengan baik. Fasilitasnya jauh dari kata layak, serta kebersihannya tak terjaga.

Curug Penganten bagaikan tempat wisata terbengkalai. Kami juga tak tahu pasti, apakah sebenarnya curug ini masih aktif sebagai tempat wisata atau tidak. Karena saat kami berkunjung, tidak ada wisata lain, kecuali kami. Penjaga pintu masuknya juga tak ada. Benar-benar tempat wisata yang aneh.

Sampah berserakan di area Curug Penganten. (Dok. Arteri News/Hadi).

Meski begitu, kami tetap merasa senang dapat berkunjung kesana. Semoga kami bisa berjumpa lagi dengan Curug Penganten di lain waktu. Kami sangat berharap ketika kembali ke curug ini kondisinya sudah jauh lebih baik, dari segi fasilitas ataupun kebersihan.

Semoga saja Curug Penganten segera mendapat perhatian dari berbagai pihak untuk dibenahi. Karena, curug ini memiliki pesona yang mampu memikat wisatawan untuk berkunjung kesana. Dengan demikian, maka dampaknya tentu akan menumbuhkan perokonomian warga setempat.

HARDJA

Leave A Reply

Your email address will not be published.