Mendaki Gunung Putri dan Berkemah di Tenda “Darurat”

Hamparan pohon pinus menjadi pemandangan pertama saat kami, Bewbew dan Donald (tim Arteri News), tiba di kawasan wisata Gunung Putri, Lembang, Kebupaten Bandung Barat, Senin, 23 Desember 2019. Pemandangan itu membuat kami tak sabar untuk segera berada di antara rindangnya pohon pinus.

Dengan segala perlengkapan yang sudah dipersiapkan, kami siap mendaki dan berkemah di Gunung Putri. Usai memarkirkan motor dan membayar ongkos parkir sebesar Rp 10 ribu, kami langsung menuju ke loket untuk membeli karcis masuk. Harga karcisnya terbilang murah, yakni Rp 20 ribu/orang.

Saat karcis sudah di tangan, kami langsung tancap gas memulai pendakian. Ada dua jalur yang tersedia untuk menuju tempat kemping di puncak Gunung Putri. Pertama itu jalur landai beralaskan pon blok yang meliuk-liuk. Kedua jalur cepat tanpa alas yang lurus menuju ke puncak. Kami pun memilih jalur kedua untuk memangkas waktu tiba di atas gunung.

Bisa dibilang jalur kedua lebih beresiko dari pada jalur pertama. Jalur kedua itu lumayan terjal, sekitar 40-50 derajat, dan licin karena permukaan tanahnya agak lembab. Melalui jalur ini juga lebih menguras tenaga dibanding jalur kedua. Ya, meski demikian kami tetap menempuh jalur kedua. Selain lebih cepat, jalur kedua kami anggap lebih menantang.

Hamparan pohon pinus yang di puncak Gunung Putri. Dok. Arteri News/Hadi

Kurang lebih sekitar 25-30 menit, kami akhirnya tiba di titik perkemahan pertama. Ternyata di titik ini sudah banyak tenda yang berdiri dan terlihat padat orang. Menurut kami, ini bukanlah titik ideal untuk berkemah. Maka kami memutuskan melewati titik ini dan berjalan lebih ke puncak.

Nah, tak jauh dari titik berkemah pertama, terdapat bangunan tugu berbentuk menara mini. Bisa disebut, tempat tugu ini berdiri merupakan puncak dari Gunung Putri. Dari lokasi ini, mata kami dimanjakan dengan perbukitan yang nampak bebaris memanjang ke samping.

Keindahan alam ini lekas kami manfaatkan sebagai beackgournd berpose di depan kamera. “Cekrek… cekrek…” beberapa foto pun tersimpan di smartphone kami dan siap beredar di media sosial (medsos). Supaya kaya anak kekinian gitu, pamer foto jalan-jalan di medsos biar dilihat sama netizen.

Lanjut. Abis foto-foto, kami meneruskan perjalanan untuk cari tempat berkemah. Tak jauh dari tugu, kami menemukan titik berkemah kedua. Disini tidak jauh berbeda dengan titik pertama. Tenda-tenda berbagai model dan warna sudah banyak berdiri. Suasananya nampak sumpek, terlalu banyak tenda dan orang.

Sama seperti sebelumnya, kami menganggap titik ini tak ideal juga untuk berkemah. Kami akhirnya berjalan lagi meninggalkan titik kemah kedua ini. Kurang lebih 10 menit melangkahkan kaki di bawah rindangnya pohon pinus, kami menemui titik kemah ketiga. Tempat ini merupakan titik kemah terakhir kata pendaki yang kami tanya.

Pemandangan dari tugu di puncak Gunung Putri. Dok. Arteri News/Hadi.

Di titik ini hanya ada 3 tenda yang berdiri. Suasananya tenang, tidak banyak suara orang. Kami lalu mencari tempat untuk mendirikan tenda. Di tengah-tengah empat pohon yang berdiri berdekatan, kami mendirikan tenda. Tidak seperti pendaki yang lain, tenda kami hanya terdiri dari matras sebagai alas, dan beratapkan plesit.

Menurut kami, tenda yang kami buat lebih seperti tenda darurat bencana. Bukan tenda berkemah seperti orang-orang yang berkemah di sekitar. Kami bukan tak memiliki tenda selayaknya seperti yang lain. Tapi dari awal kami memang menetapkan konsep “Menyatu Dengan Alam”. Karena itu kami mendirikan tenda seakan ala kadarnya. Yang penting bisa buat kami berteduh.

Sekedar informasi. Setiap titik kemah di kawasan ini terdapat toilet. Jadi pendaki atau wisatawan yang berkunjung tak harus pusing untuk keperluan “MCK”. Nah, di titik pertama dan kedua juga tersedia tempat untuk sholat. Kalau di titik ke tiga, tempat beribadahnya lagi dalam proses pembangunan.

Untuk ketinggian gunung ini, ialah 1587 mdpl. Letaknya sendiri berdekatan dengan Gunung Tangkuban Perahu. Tempat ini sangat cocok untuk pendaki pemula yang ingin mengetes fisik. Terlebih, destinasi ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti yang disebutkan di atas.

Lanjut cerita. Usai beres memasang tenda ada momen mengagumkan yang terlihat dari tempat kami. Momen itu, ialah detik-detik matahari terbenam. Peristiwa itu turut kami abadikan melalui ponsel pintar. Tak lupa kami juga mengunggah matahari terbenam ini di medsos. Ya, hitung-hitung berbagi keindahan alam sama netizen melalui dunia maya.

Detik-detik matahari terbenam di Gunung Putri. Dok. Arteri News/Hadi.

Ketika hari mulai gelap, udara semakin dingin. Orang yang ada di sekitar kami mulai memakai jaket untuk menghangatkan tubuhnya. Beberapa yang sudah memakai jaket dan masih tak tahan dingin, masuk ke tendanya. Sementara kami tidak demikian. Tidak menggunakan jaket, dan yang jelas tak dapat berlindung di dalam tenda.

Bukan kami tak ingin menghangatkan diri. Melainkan kami ingin menyatu dengan alam. Kami memang ingin merasakan dinginnya udara pegunungan. Sambil menunggu air panas untuk menyeduh kopi, kami membuat api unggun. Kebetulan di Gunung Putri memang tak ada larangan membuat api unggun. Makanya kami buat untuk menghangatkan diri.

Setelah menyeruput kopi dan api unggun padam, kami berkunjung tenda tetangga satu-persatu untuk bertegur sapa. Bercengkramah itu penting saat di atas gunung. Demikian ucapan Donald, yang banyak pengalaman soal mendaki dan hidup di alam bebas.

Seumpama terjadi sesuatu saat mendaki, maka orang pertama yang akan membantu adalah pendaki terdekat. Inilah manfaat menjalin percakapan dengan orang baru di atas gunung. Tegur sapa ini juga akan berbuah teman baru sesama pencinta alam.

Namun perlu diingat, kalau berkunjung ke tenda lain tetap harus memperhatikan situasi. Sebagai contoh, jika penghuni tenda yang disambangi raut wajahnya terlihat mengantuk, atau mereka sedang menjalankan kegiatan internal seperti pelatihan, ada baiknya tidak mengganggu mereka.

Kembali ke cerita. Kami bertamu ke tenda sekitar tidak dengan tangan kosong. Tapi kami datang membawa dua gelas kopi hangat untuk dinikmati bersama. Bahasa lainnya itu, “joinan” ngopi. Beruntungnya, sajian kecil kami ini dibales dengan cemilan hingga rokok dari pendaki lain.

Dari tenda ke tenda, kami bertukar pengalaman mendaki gunung. Rata-rata pendaki sekitar kami merupakan orang Bandung dan berstatus pelajar SMA. Semua begitu ramah terhadap kami. Mereka juga seru dan asik saat diajak berbincang.

Tak terasa, sekitar dua jam lebih, kami bersafari dari tenda satu ke tenda lainnya. Kami sangat senang dapat mengenal orang-orang baru di puncak Gunung Putri. Karena waktu sudah malam, yakni sekitar pukul 21.30, kami pun balik ke tenda. Tak lama kami lekas istirahat agar dapat bangun di pagi hari melihat matahari terbit.

Ok, demikian cerita kami di Gunung Putri. Oh iya, sebelum tidur, kami sempat membuat podcast soal tempat ini. Podcast kami kemas dalam bentuk video dan dapat disaksikan di youtube Arteri, yakni “Arteri Channel”. Supaya gak ribet, kalian bisa saksikan podcast kami di bawah ini:

HARDJA

Leave A Reply

Your email address will not be published.