Konflik Harta Warisan Pisahkan Minke dan Mawar

439

“Kita kalah mah. Kita kalah,” ucap Minke sambil menangis kepada mertuanya, Nyai Ontosoroh. “Tidak Sinyo. Kita sudah melawan dengan sekuat-kuatnya dan dengan sehormat-hormatnya.”

Inilah penggalan dialog akhir dalam film “Bumi Manusia”. Film ini diambil dari karya novel Pramoedya Ananta Tour. Sinyo, begitulah mertuanya memanggil Minke, merupakan tokoh utama dalam film ini. Ia terlibat konflik asmara dan pertentangan antara norma lokal dan asing.

Sinyo yang menikah dengan Annalies Mellema (Mawar Eva de Jongh), putri keturunan Belanda, tak pernah menyangka kalau hubungan rumah tangganya akan berakhir begitu cepat. Konflik kepentingan harta warisan menjadi pemicu kandasnya pernikahan mereka.

Mawar adalah anak dari pasangan Herman Mellema (bapaknya) dan Nyai Ontosoro (ibunya). Ia memiliki saudara laki-laki bernama Robert Mellema. Bapaknya, Herman, merupakan keturan Belanda yang memiliki perusahaan besar di bidang pertanian, Boerderij Buitenzorg, di Wonokromo.

Semenjak Mawar menikah dengan Minke, banyak orang keturunan Belanda yang mulai khawatir kalau perusahaan Boerderij Buitenzorg akan jatuh ke tangan pribumi. Karena secara otomatis, Mawar nantinya akan mendapatkan jatah waris atas perusahaan tersebut.

Rasa kekhawatiran ini pun langsung disikapi oleh orang-orang Belanda dengan coba mengusik hubungan Minke dan Mawar, terlebih saat bapaknya Mawar meninggal karena diracun oleh orang tak jelas.

Orang-orang Belanda ini, termasuk kakanya Mawar, Robert Mellema, membenturkan pernikahan Minke dengan norma Belanda. Status mereka sebagai suami istri dianggap tidak sah secara hukum Belanda. Mawar pun diminta untuk meninggalkan Minke dengan dipaksa pergi ke tanah kelahiran bapaknya.

Kaum Belanda ini bukan tak senang Sinyo saja. Mereka juga tak suka dengan ibunya Mawar, Nyai Ontosoroh, karena berdarah pribumi. Nyai Ontosoro ini dituduh sebagai dalang dari kematian suaminya.

Dari sinilah perjuangan Minke melawan orang Belanda yang tak senang dengan pribumi di mulai. Sejak awal, Minke memang tak senang dengan perlakuan orang Belanda yang semena-mena terhadap pribumi. Orang Belanda selalu saja merendahkan derajat Pribumi. Minke coba membela martabat pribumi dan dirinya sendiri melalui tulisan.

Ya, jalur literasi dia pilih untuk melancarkan perlawanannya. Minke menulis segala pembelaannya dan dipublikasikan di dalam media massa cetak. Tulisan Minke kemudian membangkitkan kesadaran pribumi atas penindasan orang Belanda.

Kisah film “Bumi Manusia” ini memang menonjolkan nilai-nilai perjuangan. Tokoh Minke ini dipergakan oleh Iqbaal Ramadhan. Mantan personil Koboy Junior tersebut begitu apik memainkan perannya. Terlebih saat adegan Minke yang harus berpisah oleh istrinya.

Untuk kisah selengkapnya, saksikan langsung film “Bumi Manusia” yang telah tayang di layar lebar beberapa waktu lalu.

Pandi

Leave A Reply

Your email address will not be published.