“Ketika Manusia Berpikir Untuk Survive, Dia Akan Berpikir Total”

Jimi Multazahm berbagi pengalamannya merintis band The Upstairs. Berbagai cerita menarik dia paparkan, dari awal membentuk band sampai menentukan karakteristik penampilan panggungnya. Selain pengalaman, vokalis The Upstairs, ini juga banyak memberikan pandangan pribadinya sebagai musisi terhadap dunia musik tanah air, seperti minimnya apresiasi hingga soal pembajakan.

Dari kawasan Pamulang, vokalis band The Upstairs, Jimi Multazahm, mengayun pedal sepedanya menuju salah satu tempat makan di sekitar Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Kurang dari satu jam, Jimi pun tiba di lokasi. “Makan dulu ya,” ucap Jimi yang hendak duduk usai menyalami tim redaksi Arteri yang tiba lebih dulu di tempat makan tersebut.

Tim redaksi sebelumnya memang sudah membuat janji dengan Jimi untuk wawancara. Tepatnya, pertemuan berlangsung pada Kamis malam, 24 Mei 2019. Ada dua pembahasan dalam wawancara. Pertama mengenai The Upstairs, dan kedua soal pribadi Jimi sebagai musisi.

Dalam sesi tanya jawab mengenai The Upsatirs, banyak cerita menarik.yang disampaikan pria berambut ikal ini. Di antaranya, ialah asal mula pemilihan pakaian berwarna nyentrik yang telah menjadi cirikhas The Upstairs. Mau tahu bagaimana cerita lengkapnya? Kalau gitu simak saja langsung perbincangannya berikut ini:

Ceritain dong dari awal terbentuknya The Upstairs?

Upstairs terbentuk tahun 2001 lah ya. Awalnya the upstairs tu emang dari gue dengan qubil. Awalnya kita dari band yang berbeda dan dari music-musik keras, kita ingin suatu hal yang baru, ingin keluar dari kebiasaan bermusik tapi tetep bermain simple dan tetep ada punk rocknya dikit. Kebetulan waktu itu lagi jaman-jamannya balik ke selra anak-anak, kayak new wave gitu kan dan belum ada yang melirik kesana nih. Gimana kalo kita bikin new wave tapi dengan lirik yang lebih Indonesia dengan tema-tema keseharian, sosial. new wave kan sci-fi, tema-temanya luar angkasa, mereka kan menghayal tentang future, tentang masa depan. Jadi, new wave ini hanya sekedar music yang mengiri, anak-anak sepakat bikin lagu pertama antah berantah.

(istimewa)

Dari 2001 sampai sekarang, sudah berapa album yang dibuat oleh The Upstairs?

Kalo yang diluar single dan mini album, ada 4. Tapi mini albumnya yang banyak.

Berapa banyak tuh?

Total rilisan sih ada 9 gitu.

Boleh ceritain gak, susah senangnya ngeband bersama The Upstairs?

Senengnya sih ada begitu banyak ya, misalkan deadline kita yang menentukan, artistic kita yang menentukan, mengkurasi musik kita yang menentukan, turnya juga fun.

Kalau susah atau gak enaknya apa, nih?

Ya, gak enaknya mungkin, ketika ada temene-temen yang gak bisa lanjut dengan kita. Dulu kan ada personil cewek, setelah nikah ya udah berhenti. Ada batasan-batasan dan kesepakatan-kesepakatan dengan keluargnya, akhirnya terjadi perubahan-perubahan. Terus tren musik, walaupun kita membawa tren musik tapi ketika kita menghasilkan album yang lebih advance dari pada selera fans kita, terjadi benturan-benturan. Jadi kita pengen hal yang lebih jauh, penggemar masih menginginkan album-album sebelumnya.

Seperti apa misalnya? Apakah soal tema atau yang lainnya?

Bukan masalah tema sih. Dengan look, dengan sound, kita stepnya udah jauh gitu. Seharusnya kita harus kompromi dengan bisnis, tapi kita cuek aja, hajar aja. Strateginya kita akan menyisipkan satu lagu yang lebih dekat dengan penggemar, sisanya ekperimental kita.

(istimewa)

Nah masuk ke soal penggemar, ada cerita serua apa sih The Upstairs sama fans-nya?

Pengalaman seru tuh, album Magnet-Magnet, album yang menurut fans kita itu gak sesuai dengan ekspetasi mereka. Karena mereka masih enjoy dengan Energy, di album Magnet-Magnet kita bikin organic lagi nih soundnya. Baru sekarang ini lucunya, setelah Sembulat Silang Warna kita keluarkan dan album itu kita stop di label, album itu jadi tinggi ratenya. Yang mencari album Magnet-Magnet itu pendengar kita yang millennial lah, pada pengen tahu kenapa ada missing link.

The Upstairs terkenal dengan penampilannya yang selalu nyentrik, full color gitu. Siapa awalnya yang nemntukan hal ini?

Waktu itu gue sih emang (yang nentuin). Jadi sebenrnya ketika kita bikin The Upstairs, yang lagi hype itu koil ya, item-item mengkilat gitu dan hampir semua orang pake silk item, balikin aja (hitam-hitam menjadi full color), kalo gue sih gitu aja. Gue emang lagi suka galm rock, era-era Bowie gitu ya, jadi gue pikir kalo diaplikasikan ke jaman sekarang ajaib pasti nih. Cuma gitaris gue bilang waktu itu, kalo segini gue gak kuat men. Buat kubil, udah kita stay di scotish punk aja gue lebih nyaman, dari 70’s ya kita mix and match aja. Kita pengen beda sih sebenrnya, beda itu memuaskan gitu.

Style ini memang ditentukan sebagai jati diri band atau hanya ingin mencari sensasi saja?

Kita gak mikir macem-macem sih waktu itu. Satu lagi, set panggung dulu flat. Jadi ketika ada di panggung lo udah termasuk set panggungnya, lo udah terasuk artisticnya. Kalo banyak yang menulis tentang jati diri, sensai, itu dampak ya. Ketika lo wow, jadi lah sensasi. Biar orang selalu mengingatnya, jadi lah jati diri.

Waktu bikin The Upstairs, sempet terpikir bakal hype gak saat itu? Soalnya waktu itu kan band pop lagi besar-besarnya.

Nah, itu dari pertama sebelum dari The Upstairs pun, kita waktu main ada emang pikiran-pikiran untuk agak dibedakan sedikit “asoy” nih. Ketika semua orang lagi senang membawakan musik seperti ini, kita hadir lagi sebagai peserta, kelar lah kita. Gue ingin orang lebih ngeliat kita lebih punya konten lirik yang berbeda, kemasana musik, kubil punya tema-tema gitar yang unik gitu ya. Jadi, kita waktu bikin itu gak memikirkan potensi sebesar itu ya, yang kita pikirkan, kita bikin lagu seneng nih, itu dulu. Karena ketika lo bikin musik sambil mikir jualannya, gue yakin itu gak bisa bikin kita seneng. Fans pertama yang kita tuju adalah diri kita sendiri.

(istimewa)

Soal manggung, punya pengalaman seru apa saja ketika manggung di awal-awal?

Awal-awal (manggung) kita masih di era mixer analog ya, jadi kita waktu manggung, band baru, pas masuk, mixer udah ditanda-tandain tuh, kita cuma dikasih sisa dua. Yang menarik akhirnya suatu saat gue punya akal, kita pake jaya rocks (untuk bantuk mixer The Upstairs manggung) karena pasti didengerin. Terus, karena The Upstairs itu dari bawah ya, gue juga ikut ngangkut-ngangkut barang.

Kalau pengalaman gak enaknya seperti apa?

Paling gak enak kalo gak dibayar lah. Dulu pernah waktu main pensi di Bandung, kita mau naik diundur-undur terus. Ternyata, mereka emang belum bisa melunasi, mereka gadai handphone sampe dua minggu dan akhirnya bisa dilunasi.

Perbincangan lalu beralih ketopik yang kedua. seperti yang telah disebutkan sebelumnya, topik ini mengulas pribadi Jimi sebagai musisi. Mau tahu apa saja yang diulas? ini dia isinya:

Ok, sekarang kita mau nanya soal personal, nih. Menurut bang Jimi, musik indie di Indonesia sekarang itu bagaimana?

Secara global, musik dan label itu semakin indie. Gue gak terlalu menyembah indie lah ya, indiependent ini kalo menurut gue sebuah sistem, bukan warna musik. Jadi, cara kita untuk langsung bergerak, indie itu adalah ciri-ciri musisi yang mandiri. Kalo bisa kita sambungkan, semuanya itu semakin digital, semakin compact. Buat musisi, makin diuntungkan, dengan adanya platform-platform itu bisa distribusi sendiri.

Ceritain dong bagaimana awalnya bisa terjun ke dunia musik?

Kalo kata temen gue di ngobryls, kita ini tersesat di jalan yang benar. Awal-awal lahir The Upstairs, gue sebenernya memulai sebagai mural artist, Cuma kondisinya ketika mau lulus era 98, semua usaha yang gue bangun runtuh, jadi gue tejun musik deh. Jadi ini, keputusan yang nekat menurut beberapa orang. Kalo gue mikirnya, ketika gue terjun kesini dan fokus berpikir disini pasti ada jalannya. Ketika manusia berpikir untuk survive dia akan berpikir total tentang apa yang sedang dipegang saat itu, dan gue melakukannya seneng. Ngelukis, gue seneng tapi gak seenteng di music, padahal gue secara skill lebih bagus di seni rupa dibanding music Cuma waktu di musik itu ada seniman kontemporer, anggap aja gue kontemporer.

Projek apa yang sedang dikerjakan nih bang?

Gue baru rilis sama si Morfem kaset, terus The Upstairs juga sekarang lagi menggarap sesuatu. Pokoknya element surprisenya gak mau gue buka sekarang. Kalo gue liat masyarkat lagi butuh lagu cinta yang menimbulkan cinta.

Ada gak projek di luar musik yang dikerjakan?

Darah seni rupa masih menggelegar, cuma mungkin gue lagi merancang suatu cara lagi memperkenalkan kara-karya gue. Ini udah lama banget gak gue buka tentang karya gue di seni rupa, itu juga lagi ada agendanya.

Bang Jimi kan sudah lama nih bermusik, dari era kaset tipe sampe sekarang yang serba digital. Menurut bang Jimi, lebih enak era yang mana nih kira-kira?

Kalo jaman dulu itu, musik itu punya orang-orang kaya. Gue inget quotes-nya Fariz RM “Gara-gara kaset, semua masyarakat Indonesia bisa mendengarkan musik. Dulu itu musik cuma plat, yang punya orang gedongan”. Enak mana jaman dulu sama jaman sekarang? Kalo dulu, waktu jaman kaset lagi jaya-jayanya, uang 1 juta cuma dapet pita doang (untuk produksi musik). Sekarang, dengan alat musik lo yang simple, lo bisa mendunia. Kalo dulu, lo haru bergantung sama label, bahkan dulu ada yang namanya cukong. Dulu itu pasti ada orang kaya yang punya alat musik, kita dibiayain sama mereka, nah mereka itu cukong. Kalo sekarang lo gak perlu alat musik yang gede buat rekaman. Kalo menurut gue sih era sekarang lebih enak, jaman dulu, musik itu barang yang sangat mewah.

Vokalis The Upstairs, Jimi Multazahm. (Dok Arteri News)

Sebagai musisi, bagaimana tanggapan bang Jimi soal pembajakan musik via digital, contoh kecilnya seperti mendownload ilegal dan bluetooth?

Gue udah gak perduli dengan hal itu. Gue malah berpikir, jaman sekarang orang udah males ngumpulin data sebanyak itu (lewat download ilegal) untuk entertainmenet. Yang mendownload itu, orang yang tua-tua.

Bang Jimi, pernah ngeraa jenuh gak sih sama dunia musik?

Ketika lagi bikin Morfem itu, gue jenuh dengan synthesizer. Jenuhnya itu dengan sound, tapi kalo ninggalin music kayaknya gak bisa deh. Jadi dengan gue bikin project lain itu selalu bikin gue fresh.

Untuk inspirasi?

Inspirasi terakhir yang menarik adalah ketika bikin lagu The Upstairs “Semburat Silang Warna”, gue nyari lirik itu sampe 3 bulan. Gue lagi jarang dengerin music sintetis, jadi gue kesulitan buat masukin lirik yang pas. Gue udah coba cari inspirasi kemana-kemana gak ketemu, tapi ketika pulang ke rumah, gue ngeliat gambar anak gue di kulkas dan mencoba menerjemahkannya dan itu ternyata lirik gue. Kalo inspirasi selau dateng dimana aja, tergantung gimana kita ngangkepnya aja.

Dari berbagai aliran musik yang udah pernah dimainin, mulai dari new wave, punk, dan lainnya, sebenernyan musik yang paling Jimi banget itu, yang mana sih?

Jadi, gue awalnya adore sama Eddie Van Halen dan Twisted Sister, itu fashion ya soalnya, kaya topeng badut-badut itu. Terus waktu jaman Metallica dateng, nah ini nih music gue kayaknya ini nih. cuma ada satu hal, gue gak bisa memainkan semua music itu, cuma pemuja aja, penggemar. Tapi, akhirnya pada suatu saat temen gue dateng bawa kaset band punk rock dari Seattle, terus gue denger lagunya, anjir kok musiknya segampang ini ya. Akhirnya music gue ini, pola pikir music punk rock ini gue suka, tapi bukan punknya ya. Tapi, pola pikir punk rock, cara mereka melakukan rekaman, cara mereka berkarya, mereka memperlakukan rekamannya, lirikal, nah itu yang menginspirasi gue. Jadi hal yang simple, yang memainkan sound, bukan yang menegkplorasi not dan chord, jadi lebih ke sound aja”

Terakhir nih bang, ada pesen khusus, motivasi, atau kata-kata gitu bang, untuk generasi sekarang yang masih baru terjun ke dunia musik?

Buat anak sekarang, lo tinggal memanfaatkan aja apa yang ada. Kalo misalkan gak terjadi apa-apa sama musik lo, berarti emang bukan nasib lo, friend.

Randi/Hadi

Leave A Reply

Your email address will not be published.