Berbalas Pidato Pasca “Peristiwa”

4.215

“Ikut Musso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia merdeka, atau ikut Sukarno-Hatta, yang Isnya Allah dengan bantuan Tuhan, akan memimpin negara RI yang merdeka tidak dijajah oleh negara apapun juga”.

Inilah pilihan yang ditawarkan Presiden Sukarno kepada rakyat Indonesia pasca meletusnya “peristiwa” Madiun, 18 September 1948. Kala itu Partai Komunis Indonesia (PKI) di bawah pimpinan Munawar Musso, melakukan pemberontakan di Madiun untuk merampas kekuasaan dan mendirikan pemerintahan Soviet.

Desain: Randy Fauzi

“Perampasan ini mereka pandang sebagai permulaaan untuk merebut seluruh pemerintah RI,” ucap Sukarno yang disampaikan dalam pidatonya pada 19 September 1948.

Bung Karno, sapaan akrabnya, mengintruksikan agar Madiun harus bisa dikuasai kembali secepatnya. Masih dalam pidatonya, Bung Karno juga mengumumkan agar semua perusahaan vital diberlakukan Undang-Undang (UU) dan peraturan militer, termasuk untuk pegawainya.

“Semua perusahaan yang vital dimanapun, sebagai: Pos, telepon, telegrap, kereta api, gas dan listrik, pabrik-pabrik negara yang menghasilkan minyak, gula, tekstil dan banyak lagi lain, sekarang dimiliterisir,” kata Bung Karno.

Pidato tersebut dikutip dari buku “ Bung Karno Dalam Kenangan” yang ditulis oleh Solichin Salam. Tepatnya, pidato diambil dari keterangan A.H. Nasution dengan sub tema “Dengan Bung Karno Dimasa Pemberontakan PKI 1948” halaman 44.

Apa yang diucapkan Bung Karno nampaknya tak membuat Musso gentar. Ia justru membalasnya dengan cara yang sama, yakni berpidato. Musso menepis tudahan tudahan Bung Karno yang menyebut kelompoknya melakukan kudeta (kup) di Madiun. Menurutnya, untuk melaksanakan kewajiban revolusi nasional, kekuasaan harus berada di tangan rakyat. Dan inilah yang terjadi di Madiun pada 18 September 1948.

“Dengen Begitu rakyat Madiun telah melaksanakan kewajiban revolusi nasional kita ini, bahwa ia seharunya dipimpin oleh rakyat sendiri dan bukan oleh kelas lain,” kata Musso.

Sudah tiga tahun revolusi nasional berjalan di bawah pimpinan kaum borjuis yang bisa goyang saat menghadapai imperialis, khususnya terhadap Amerika. Musso menilai, situasi ini jadi salah satu penyebab kondisi ekomoni dan politik dalam negeri terus memburuk. Ia berpadangan kondisi ini tak ada bedanya dengan keadaan jaman Belanda dan Jepang, khususnya bagi kaum buruh dan tani.

Desain: Randy Fauzi

Tokoh komunis ini ingin rakyat melupakan Sukarno-Hatta karena mereka adalah budak imperialis. Sukarno-Hatta disebut menjalankan politik kapitulasi terhadap Belanda dan Inggris. Kini mereka juga akan menjual Indonesia dan rakyat pada imperialis Amerika.

“Bolehkah orang-orang semacam itu bilang, bahwa mereka mempunyai hak yang syah untuk memerintah Republik kita,” tegasnya.

Tawaran memilih Sukarno-Hatta atau Musso dengan PKI-nya juga tak luput ditanggapi. Musso menjawab “Sukarno-Hatta, budak-budak Jepang dan Amerika! Memang ciri wanci lali ginowo mati!”. Menurutnya, pasti rakyat akan menjawab “Musso selamanya menghamba rakyat Indonesia!”.

Sebelum meletusnya “peristiwa” Madiun atau Madiun Affair, Sukarno dan Musso sebenarnya adalah kawan baik. Mereka pernah tinggal satu atap di rumah H.O.S Tjokroaminoto, Surabaya. Setelah pemberontakan PKI terhadap pemerintahan Hindia-Belanda, 1926, Musso yang terlibat dibuang ke Moskow.

Pada Agustus 1948, Musso kembali ke Indonesia. Ia sempat berjumpa dengan kawan lamanya, Sukarno. Ini pertama kalinya Musso dan Sukarno bertemu setelah lama berpisah. Dalam kesempatan tersebuti, Sukarno meminta kepada Musso untuk membantu memperkuat negara dan melancarkan revolusi. Kata Musso, permintaan Sukarno itu memang sudah menjadi kewajibannya.

“Saya datang di sini (Indonesia) untuk menciptakan ketertiban,” sambung Musso dalam bahasa Belanda menjawab permintaan Sukarno.

Musso dan Sukarno foto bersama (istimewa)

Musso lalu ikut serta dalam sidang Politbiro PKI pada 13-14 Agustus 1948. Dalam sidang ini dia menjelaskan tentang pekerjaan dan kesalahan partai dalam dasar organisasi dan politik. Musso kemudian menawarkan gagasan “Jalan Baru untuk Republik Indonesia”. Ia menghendaki partai kelas buruh dengan nama yang bersejarah, yakni PKI.

Sebanyak tiga organisasi beraliran Marxsisme-Leninisme dilebur menjadi satu. Organisasi itu, ialah PKI ilegal, Partai Buruh Indonesia, dan Partai Sosialis Indoensia. PKI hasil fusi ini dibentuk untuk memimpin revolusi proletariat yang bertujuan mendirikan pemerintahan “Komite Front Nasional”.

Anak dari kiai besar pengasuh pesantren di Kediri itu berpikiran untuk membentuk kabinet from persatuan guna menggantikan kabinet presidensial. Ide ini dia disampaikan saat menggelar rapat besar di Yogyakarta. Ia juga menyerukan kerja sama internasional dengan Uni Soviet (sekarang Rusia) untuk mematahkan blokade Belanda.

Bersama tokoh komunis, di antaranya Amir Sjariffudin, Musso mulai menyebarkan gagasnya tersebut. Kelompok kiri ini mulai bersafari ke daerah-daerah di Jawa seperti Solo, Madiun, Kediri, Jombang, Cepu, Purwodadi, dan Bojonegoro. Di tengah safari, “peristiwa” Madiun meletus. Hal ini terjadi karena Musso cs selama bersafari kerap melakukan serangkaian aksi agitasi, demonstrasi, dan pengacauan lainnya. Kejadian inilah yang kemudian berbuntut retaknya hubungan Sukarno dan Musso. Akhirnya mereka pun berbalas pidato dengan saling menuduh.

Penulis: Hardja/Fauzi

Leave A Reply

Your email address will not be published.